Ada dua tokoh yang saya kagumi untuk bisa saya ceritakan dan mendukung tema ini, pertama adalah B.J Habibie, beliau membuat N250 Gatot Kaca, yang merupakan pesawat turboprop pertama di dunia yang menerapkan sistem fly-by-wire pada tahun 1995, sebuah pencapaian yang sangat dikagumi para cendekiawan bahkan anak-anak muda seperti saya, bagaiamanapun pesawat merupakan salah satu puncak teknologi. Impian yang diinginkan B.J Habibie adalah menghubungkan seluruh pulau lewat udara, dengan pesawat buatan dalam negeri tentunya. Saya menyebut itu sebagai roman, kita bisa membuat membuat syair atau puisi dari kisahnya.
Tokoh kedua yang ingin saya perkenalkan adalah Hayao Miyazaki, pendiri studio Ghibli, prinsip yang saya kagumi dari beliau adalah pandangan dia terhadap manusia dan alam, bahwa manusia bukanlah eksistensi superior yang berada di atas alam, beliau menempatkan posisi manusia selaras dengan alam, manusia merupakan bagian dari alam sebagaimana maqluk lainnya, jika alam rusak, manusia juga akan rusak, prinsipnya ini tergambar di dalam karya-karyanya. Beliau memandang bahwa teknologi merupakan perpanjangan dari Ego manusia, mungkin paham ini terbentuk dari konflik batin karena melihat ayahnya merupakan orang yang berperan dalam pembuatan pesawat untuk perang.
Bagi saya teknologi tidak lain harus diperuntukkan untuk kebaikan umat manusia, bukan hanya secara capital, tapi juga secara makna. Dan semakin kesini teknologi menjauhkan manusia dari maknanya; mesin produksi masal, kecerdasan buatan, dan mesin-mesin perusak alam lainnya
Bagi Miyazaki makna lebih penting dari kecepatan atau pendapatan, beliau menggambar seluruh karyanya dengan tangan yang membutuhkan waktu tidak sedikit.
Berkaca dari pengalaman saya, teknologi skala besar dapat mematikan kearifan lokal, saya akan memberi gambaran sederhana, waktu saya kecil, ibu saya merupakan penjahit, dan tidak hanya ibu saya yang menjadi penjahit di kota saya, ada banyak. Sebelum adanya pakaian jadi menjamur di pasaran, masyarakat cenderung pergi ke tukang jahit pada perioder tertentu, hari raya misalnya. Hingga pemodal besar masuk dan akses import tidak dibatasi, saat ini pakaian jadi dengan harga yang sangat murah menjamur di pasaran, dan bisakah industri rumahan bertahan? Sebagian besar runtuh, lapangan kerja hilang, uang berkumpul pada pemegang modal besar.